
Dalam kegiatan tersebut, Tim Verifikator DLH Provinsi Kalimantan Timur didampingi oleh Tim Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Paser, PT Petrosea selaku salah satu pihak yang mendukung pelaksanaan ProKlim di Desa Legai, serta Perangkat Desa Legai dan Tim Satgas ProKlim Desa Legai.
Verifikasi lapangan ini merupakan bagian dari proses penilaian Desa Legai sebagai calon ProKlim Utama Tahun 2026, sekaligus menjadi momentum untuk melihat secara langsung keberlanjutan berbagai kegiatan masyarakat dalam menghadapi dampak perubahan iklim serta upaya pengurangan emisi gas rumah kaca.
Meninjau Lumbung ProKlim Bestari
Rangkaian kegiatan verifikasi diawali dengan kunjungan ke Lumbung ProKlim Bestari Desa Legai. Di lokasi ini, tim melakukan pengecekan terhadap berbagai kegiatan dan inovasi masyarakat yang berkaitan dengan ketahanan pangan, pengelolaan sumber daya alam, konservasi lingkungan, serta pertanian yang ramah lingkungan.
Beberapa aspek yang diverifikasi antara lain penampungan air hujan, terasering, aplikasi pupuk organik, penggunaan mulsa alami, perlindungan mata air, serta penerapan pola tanam dan sistem tumpang sari.
Selain itu, tim juga melihat keberadaan tanaman endemik seperti Lay, tanaman buah-buahan, serta berbagai jenis tanaman yang dikembangkan masyarakat untuk mendukung ketahanan pangan dan pelestarian keanekaragaman hayati.
Praktik pembukaan lahan tanpa bakar juga menjadi salah satu aspek penting yang diperiksa. Penerapan praktik tersebut merupakan bagian dari upaya masyarakat dalam mengurangi risiko kebakaran lahan sekaligus mendukung aksi mitigasi perubahan iklim.
Verifikasi di SDN 003 Batu Sopang sebagai Sekolah Adiwiyata
Selanjutnya, Tim Verifikator mengunjungi SDN 003 Batu Sopang yang merupakan salah satu Sekolah Adiwiyata dan menjadi bagian dari dukungan terhadap pelaksanaan ProKlim Desa Legai.
Di lingkungan sekolah, tim melakukan verifikasi terhadap berbagai kegiatan pengelolaan lingkungan yang telah diterapkan, antara lain pembuatan biopori, pengelolaan Bank Sampah, pemasangan plang perlindungan pohon dan imbauan untuk tidak menebang pohon, penampungan air hujan, penghematan penggunaan air, serta penerapan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle).
Kegiatan di lingkungan sekolah tersebut menunjukkan bahwa edukasi mengenai perubahan iklim dan kepedulian terhadap lingkungan tidak hanya dilakukan di tingkat masyarakat, tetapi juga telah dikenalkan dan diterapkan dalam lingkungan pendidikan.
Melihat Inovasi Pertanian Greenponik
Verifikasi kemudian dilanjutkan ke lokasi Greenponik Desa Legai, yang menjadi salah satu contoh inovasi masyarakat dalam pengembangan pertanian sekaligus pemanfaatan energi terbarukan.
Di lokasi tersebut, Tim Verifikator melihat secara langsung pemanfaatan solar panel sebagai sumber energi terbarukan, serta inovasi pertanian berupa aquaponic yang mengintegrasikan kegiatan budidaya ikan dan tanaman.
Pengembangan Greenponik menjadi salah satu bentuk inovasi yang dapat mendukung ketahanan pangan masyarakat, sekaligus menjadi contoh penerapan teknologi yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Pemanfaatan energi matahari melalui solar panel juga menjadi salah satu bentuk aksi mitigasi perubahan iklim melalui penggunaan sumber energi terbarukan.
Verifikasi Aksi ProKlim di Lingkungan Desa
Pada rangkaian terakhir, Tim Verifikator melakukan peninjauan langsung ke berbagai titik di lingkungan permukiman Desa Legai untuk melihat penerapan aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari.
Beberapa kegiatan yang diverifikasi meliputi penggunaan tungku kayu bakar, rumah panggung, embung atau kolam tampungan, penggunaan lampu hemat energi, serta pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga (TOGA).
Tim juga melihat tempat penampungan air bersih, kegiatan Posyandu, Masyarakat Peduli Api (MPA), penampungan air hujan, jalur evakuasi, serta muster point sebagai bagian dari kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana dan dampak perubahan iklim.
Selain itu, keberadaan papan informasi ProKlim, informasi pencegahan penyakit dan penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di lingkungan Puskesmas Pembantu turut menjadi bagian yang diperiksa oleh tim.
Pada aspek pengelolaan sampah, tim juga melihat hasil kreasi dan produk berbasis prinsip 3R yang dihasilkan oleh masyarakat Desa Legai. Kreativitas tersebut menjadi salah satu bentuk pemanfaatan kembali barang bekas sekaligus upaya mengurangi timbulan sampah di lingkungan desa.
Kolaborasi Menjadi Kekuatan Desa Legai
Pelaksanaan verifikasi lapangan ProKlim Utama di Desa Legai memperlihatkan adanya kolaborasi berbagai pihak dalam mendukung aksi masyarakat menghadapi perubahan iklim. Pemerintah Desa, masyarakat melalui Tim Satgas ProKlim Desa Legai, DLH Kabupaten Paser, DLH Provinsi Kalimantan Timur, serta dukungan dari PT Petrosea bersama-sama mendorong penguatan kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di tingkat tapak.
Berbagai kegiatan yang ditinjau tidak hanya berorientasi pada aspek lingkungan, tetapi juga memiliki keterkaitan dengan ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, pengelolaan sumber daya air, energi terbarukan, pengurangan sampah, kesiapsiagaan bencana, serta peningkatan kapasitas masyarakat.
Melalui verifikasi lapangan ini, diharapkan berbagai praktik baik yang telah dilakukan masyarakat Desa Legai dapat terus dipertahankan, dikembangkan, dan menjadi contoh bagi desa-desa lainnya di Kabupaten Paser.Desa Legai sebagai calon ProKlim Utama Tahun 2026 menunjukkan bahwa aksi menghadapi perubahan iklim dapat dilakukan mulai dari tingkat desa melalui kolaborasi, inovasi, dan partisipasi aktif masyarakat. Keberlanjutan aksi tersebut diharapkan mampu memperkuat ketahanan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim sekaligus memberikan kontribusi nyata terhadap upaya pengendalian perubahan iklim di Kabupaten Paser dan Kalimantan Timur.
